Ladang Hijau

Esensi Tata Bahasa Nasional, Asing, dan Daerah

Gejala globalisasi rupanya bukan hanya terjadi pada kota-kota besar, pengaruhnya yang kian masuk ke segala aspek dalam kehidupan kesosialan – masyarakat di Indonesia kian mencuat seiring berjalannya waktu. Kita tak bisa lepas dari perkembangan zaman ini, mau tak mau kita akan mengikuti air yang mengalir juga. Dimana bahasa lokal, nasional, dan internasional akan dipertaruhkan dalam … Baca lebih lanjut

Merawat Wajah Agar Tidak Berjerawat

Penampilan adalah persiapan awal sebelum kita masuk ke dalam ranah sosial, meskipun penampilan bukan segala-galanya bagi aktivitas kita sebagai makhluk sosial. Namun sebagian besar masyarakat kita, menganggap bahwa penampilan adalah faktor pertama kita dalam menraik hati orang lain dalam unjuk diri kita di publik. Ketika wajah kita yang dulu mulus, tanpa jerawat kini tiba-tiba menjadi … Baca lebih lanjut

Seharusnya Ada UUD Tentang Pembatasan Kendaraan Bermotor

Seharusnya ada UUD tentang pembatasan Kendaraan Bermotor, mengapa harus ada pembatasan kendaraan bermotor. Bukankah kendaraan itu adalah alat kendaraan untuk mempermudah tranformasi dari tempat yang satu ke tempat yang lain? Lalu mengapa kita musti membatasi jumlah kendaraan yang memiliki faedah itu? Memanglah kendaraan itu memiliki manfaat yang besar untuk kepentingan perekonomian kita, dan tak dapat aku pungkiri bahwa akupun memiliki kendaraan bermotor.

  Dari asap polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor sangat tidak sehat jika terus-menerus mencemari paru-paru kita. Hal tersebut sangat tidak baik juga untuk perkembangan otak kita, karena itulah aku sangat mendukung jika ada anggota DPR yang mengajukannya ke sidang yang menggelar tentang RUU “pembatasan kendaraan bermotor” bukan saja aku kasih jempol tetapi juga dia akan menjadi panutan di negeri ini sebagai wakil rakyat yang baik yang mewakili aspirasi rakyatnya.

Aku tahu semua orang pasti mendambakan hidup sejahtera, memiliki uang yang banyak agar bisa membeli segala kebutuhan dan keperluan dalam usahannya. Untuk semua itu mereka mengandalkan alat transportasi dalam aktivitasnya, pergi kesan dan kemari, mungkin sebagian besar orang akan memiliki tujuan yang jelas dan tentunya menyangkut kepantingan umum. Namun bagaimana yang sebagaiannya lagi? Mereka yang pergi kesana dan kemari tanpa tujuan yang jelas dan tidak penting, membuang-buang jatah energi (sumber bahan bakar minyak) belum lagi dengan kendaraan mewah mereka yang senantiasa mencuri jatah oksigen di udara untuk dialirkan ke dalam mobil mereka dan gedung-gedung atau perumahan elit tanpa henti-hentinya. Padahal semua itu adalah penyebab utama penyumbang menaiknya pengaruh global warming. Lantas apa yang kita tunggu, selain mengeringnya bumi ini?

Tak ada yang pedulikah dengan acaman pemanasan global ini? Perlu diketahui bersama, bahwa ini bukanlah sebuah isu, namun sebuah kenyataan. Apakah perlu Tuhan menunjukan sebuah bencana, setelah bencana yang sering kita alami di negri yang kita cintai ini? Belum puaskah setelah beberapa ratus ribu bahkan jutaan nyawa yang telah tercabut akibat kelaparan dan kehausan bagi mereka yang hidup di tengah-tengah padang gurun yang sepanjang usianya baru melihat air hujan turun hanya lima kali. Berbeda dengan kita, yang hidup dengan bergelimang nikmat dari Tuhan dan sama sekali kita jarang untuk mensyukurinya. Jadi masih acuh tak acuhkah kita sebagai sesama manusia yang melihat derita mereka?

Marilah kita bersama-sama untuk menyelesaikan masalah global warming ini tanpa mengharap pamrih dari siapapun, demi keselamatan generasi kita di masa mendatang. Karena uang tiada arti apapun, jika generasi setelah kita akan bersusah-payah memperbaiki alam yang telah kita rusak hari ini. Apakah Anda menghendaki jika di masa yang akan datang, kehidupan bumi akan musnah dengan terbunuh oleh panas sengatan matahari yang mampu membakar hutan dan mampu untuk merontokkan rambut-rambut kita serta mampu mengelupaskan kulit tubuh kita yang selama ini kita bangga-banggakan?

Ayo sebelum itu terjadi, mari kita gerakkan demo besar-besaran agar pemerintah kita tahu. Bahwa rakyat itu lebih baik hatinya dibandingkan dengan hati para penguasanya, lalu bagaimana caranya? Kita tak perlu untuk memacetkan lalu lintas di tengah jalan yang mengganggu perjalanan orang lain yang sedang banyak urusan. Cukup dengan kita menggalakan penghijauan besar-besaran, dengan mengajukan proposal ke gedung DPR atau jika tidak kita kirimkan surat resmi ke president RI kita. Kita lihat sikap mereka bagaimana, apakah akan lebih baik dari kita? Jika tidak ada respon, kita tak perlu memarahi mereka. Kitapun tak perlu untuk bertindak anarkis yang sering kita lakukan dulu, karena semua itu hanya akan membawa nama kita menjadi lebih buruk. Mari kita angkat nama kita sebagai orang yang memiliki sifat yang sering dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang tak pernah menuntut sesuatu apapun sebagai seorang utusan Tuhan kepada kita. Selain beliau berharap agar ummatnya ditolong saat hari pembalasan kelak.

Ayo kita lakukan penghijauan sekarang, dan kita ajukan RUU “pembatasan kendaraan bermotor” jika kita ingin generasi kita selamat dari ancaman pemanasan global yang sebentar lagi akan membakar kuliat yang mulus ini. Sinar ultravioletnya mampu untuk meluluhkan besi dan mematikan jantung kita dengan sekejap.

Bagi siapa yang masih belum merasa dianggap sebagai orang kaya, aku anggap Anda sebagai orang kaya sekarang. Asal Anda mau untuk meninggalkan mobil anda yang sangat memboroskan energi bahan bakar minyak bumi yang terbatas dan akan menebarkan polusi itu. Aku salut, jika Anda berpergian yang dalam jangkauan dekat dengan menggunakan sepeda. Anda tak perlu menunjukan jika Anda adalah orang-orang kaya, karena bagiku orang kaya adalah orang yang begitu mengahargai sebuah cita-cita.

 

Pusat Bahasa terkait : http://Pusatbahasa.kemendiknas.go.id/

Menyiram Tanaman Di Pagi Hari Lebih Baik

Aku berasal dari keluarga pedagang, kakek dari ibu berasal dari keluarga nelayan dan pedagang, dan dari kakek pihak bapakku berasal dari keluarga pertanian. Namun entah mengapa aku justru lebih suka dengan dunia tanam-menanam? Mungkin teori “sifat lama kembali muncul” itu berlaku pada diriku.

Suatu sore aku sedang menyiram bunga dan tanaman hias di pelataran rumahku, tiba-tiba ada yang mengagetkanku “Dear!” Oh ternyata dia temanku dari komunitas Ikatan Remaja Masjid Baaburruhmah. Dia adalah Muhammad Zakiyuddin Bin Haji Ikhtar, seorang mahasiswa tingkat II dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dari perbincangan yang cukup lama, dia menyarankan bahwa menyiram tanaman di pagi hari itu akan jauh lebih baik dibandingkan menyiram tanaman di sore hari.

  Lantas aku tidak langsung percaya padanya secara penuh, aku baru percaya sekitar 35% saja. Karena aku belum membuktikannya secara penuh. Aku tetap menyiram tanaman di sore hari, namun setelah aku perhatikan selama beberapa hari, aku lihat di dalam pot tanaman hiasku terlihat kadar airnya terlalu basah dan sangat menggangu kelembaban di dalam pot yang mana hal itu sangat mempengaruhi laju transportasi pergantian udara di dalam tanah. Aku berfikir, mungkin ini ada benarnya juga omongan dari sahabatku itu. Tapi entah mengapa saat dia menjelaskan alasannya bahwa “menyiram tanaman di pagi hari itu lebih baik” aku lupa dia mengatakannya apa. Hingga aku coba buktikan segala argumennya itu dengan pengamatan yang aku lakukan akhir-akhir ini.

Di malam hari di daerahku (Cirebon) laju angin sangat cepat, terutama di saat musim kemarau. Angin di daerah kami dikenal dengan nama angin kumbang, ada manfaat dan kekurangganya tentang angin kumbang itu. salah satu manfaatnya sebagai pembantu untuk penyerbukan bunga pohon mangga, karena kupu-kupu, belalang, tawon, enggan untuk membantu penyerbukan bunga mangga yang terlihat tidak menarik itu.Kekurangan dari angin kumbang akan aku jelaskan segera.

Suatu hari aku berkunjung ke rumah nenekku di daerah yang dikenal dengan sebutan “Watukruyu”, desa itu sangat jauh dari suasana perkotaan yang super sibuk. Disana adalah tanah hijau yang sangat cocok untuk daerah pertanaman, sungainya pun sangat asri. Aku melihat beberapa petani tanaman kangkung, ubi dan tanaman pala lainnya, mereka menyiram tanah pertaniannya di pagi hari dan pada saat sore hari mereka kembali pulang. Hal itu menjadi semakin membuatku penasaran, lebih baik manakah menyiram tanaman di pagi hari atau di sore hari sebenarnya? Namun sayang sekali aku tak sempat untuk menanyakan kepada para petani itu, apa alasan mereka menyiram tanaman mereka di pagi hari bukan di sore hari.

Lepas pulang dari rumah nenek, aku merasaletih hingga aku tak sempat menyirami tanamanku di belakang rumah. Aku niatkan untuk menyiramnya di pagi hari nanti. Esok menjelang aku berbegas ke belakang rumah sambil membawa ember yang biasa aku bawa untuk menyiram semua tanaman yang ada di kebunku. Aku menyiraminya dengan porsi yang sama, seperti menyiram saat di sore hari waktu kemarin. Setelah keesokan harinya, ternyata aku menemui perbedaan yang jelas, antara menyiram tanaman di pagi hari dan sore hari pada hari pertama. Beberapa hari setelahnya aku crosscek dengan kesimpulan yang diantaranya adalah beberapa kelebihan menyiram tanaman di pagi hari :

  1. Air jauh lebih hemat dalam hal penguapan, penyiraman yang dilakukan di sore hari kurang diserap secara maksimal oleh tanaman dan seringnya terbawa oleh arus angin di malam hari.
  2. Pengendapan air di dalam pot yang terlalu di dalam tanah justru akan membuat kondisi tanah dalam pot menjadi sangat lembab dan itu tidak bagus untuk pertumbuhan akar.
  3. Penyiraman di pagi hari dapat dijadikan sebagai olahraga yang baik untuk kesehatan.
  4. Proses penguapan untuk proses fotosintesis jauh lebih sempurna, terlihat dari pertumbuhan daun-daun yang baru bermunculan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah, bahwa menyiram tanaman di pagi hari memuat banyak faedah dibandingkan menyiram tanaman di sore hari. Semoga bermanfaat_

Ide-ide yang Tak Dianggap

Seringkali kita telah membuat beberapa naskah yang begitu banyak, namun kita tak memiliki satu karyapun untuk berhasil kita bukukan ke beberapa penerbit seolah-olah kita merasa dipinggirkan dan diacuhkan. Entah itu adalah kesalahan kita atau kurangnya minat penerbit terhadap karya-karya kita. Tapi tahukah kawan, bahwa tujuan kita menulis bukan untuk mencari uang. Namun untuk mencari jalan untuk ikut andil dalam program pemerintah yakni, “mencerdaskan bangsa” yang telah tertuang dalam batang tubuh UUD ’45 RI. Meski kita tak medapatkan upah dari negara, namun jiwa ini akan puas secara batin manakala kita kita melihat negara kita maju dan sejahtera berkat masyarakat kita yang sedikit demi sedikit berubah untuk membangaun bersama-sama negara yang telah menjadi saksi kelahiran kita di tanah air ini.

  Selagi kita kita masih ada kesempatan, berjuanglah demi impian kita. Memanglah dalam perjalanan kita, seorang penulis bagiku sebuah pengorbanan besar. Karena telah banyak waktu yang dia lewatkan untuk menulis, namun ketika dia mendapatkan royalti dari buku yang telah dia tulis justru hanya mendapatkan 10% dari total keuntungannya.

Setiap malam selesai belajar dan membaca beberapa halaman dari buku yang dia suka, dia torehkan unek-unek yang ada dalam pikirannya untuk di tuliskan dalam sebuah buku. Tapi dia kembali berpikir, jika buku yang biasa dia tulis itu berasdal dari makhluk hidup juga tak lain adalah pohon yang selau memberikan manfaat udara yang bersih untuk kita bernafas tiap detik. Pohon ibarat sebuah jantung kedua untuk tubuh kita, jika di bumi ini tak ada pohon. Maka sudah dapat dipastikan, kita akan kehilangan oksigen dan kita tak bisa melakukan pembakaran di dalam tubuh kita. Dalam hitungan jam kita dan semua makhluk yang selalu menggantungkan hidup dari oksigen akan mati dengan sendirinya. Aku putuskan untuk menulis dalam sebuah blog, hanya dengan tulisan inilah mungkin aku bisa membantu untuk menyuarakan aspirasiku kepada sesama makhluk hidup yang bersama-sama hidup di bumi ini.

Memanglah aku bukan seorang profesor yang dihormati karena ilmu-ilmunya yang sudah diakui oleh masyarakat ilmuan. Namun aku yang selalu ingin bisa untuk bergabung demi mengisi ruang-ruang ilmu yang belum terisi aku ingin menggagas suatu ide demi ide agar apa yang sudah ada menjadi lebih baik lagi, harapanku.

Santosa : Mudah-mudahan ideku yang menyuarakan untuk berpindah menulis dari buku yang terbuat dari lapisan serat kayu berpindah ke media elektronik menjadi lebih banyak dukungan. Karena aku sangat sayang pada semua pohon yang setiap hari menahan panasnya hari dan rela untuk di curi buah-buah mereka, dan manusia seringkali tak meminta izin padanya.

Semoga ide-ide selain dariku bisa dilaksanakan dan segera direalisasikan oleh orang lain atau dengan dirinya sendiri. Padahal aku sangat ingin ide-ideku itu bisa direferensikan kepada aturan-aturan hukum yang lainnya. Aku merasa iri ketika ada orang yang lebih sukses dariku dengan karya-karya tulisan mereka yang berhasil untuk dipublikasikan ke media massa, atau karya mereka lebih diakui. Padahal belum tentu mereka memiliki ketulusan hati untuk kebaikan karya mereka dengan hal yang telah dilakukannya itu. Tapi bagaimanapun juga aku tak boleh memiliki sifat dan sikap yang iri seperti ini. Walapun begitu, sifat iri untuk bisa menjadi sukses seperti mereka juga perlu juga untuk membangkitkan motivasi kita dalam mencapai keberhasilan dalam menempuh jalan menuju cita-cita ataupun dalam kesuksesan. Tak ada hal yang sia-sia jika kita mau bersyukur.

Sebenarnya aku bisa saja untuk menuliskan kata-kata yang sangat “jurnalis” namun karena segala kerumitan itu akan perlu waktu untuk mentransformasikan ke penerjemahan yang lebih lama lagi, jadi aku sering untuk menyederhanakan semuanya agar mudah dipahami oleh pembaca. Akupun tahu jika penerbit adalah lembaga yang sangat kredibel dan sudah pasti sangat profesionalitas dalam ilmu yang telah dia jadikan sebagai landasan agar tiap karya yang diterbitkannya takkan mengecewakan pembacanya. Merekapun adalah lembaga yang sudah dijadikan sebagai pekerjaan hidupnya. Jadi dalam hal terbit-menerbit mereka sudah pasti sangat selektif dan mempertimbangkannya matang-matang. Aku yang masih sebagai penulis (katakanlah) amatir, masih setengah-setangah dalam menulis. Dalam tiap kesempatan tertentu aku menulis sebisa yang aku bisa, dan itu sangat jauh dari kriteria seorang penulis sejati seperti Andrea Hirata sanga idolaku.

Aku bersabar untuk bagaimana tentang nasib tulisanku, yang belum juga terjawab statusnya. Apakah akan diterima atau akan ditolak, aku sangat berharap karya-karyaku dapat diterima oleh khalayak umum. Tak sekedar karyanya, namun segala gagasanku dan ide-ideku semuanya.

Diam-diam Belajar

     Santosa adalah nama pena dari Santosa de Aviciena, kelahiran Cirebon 5 mei 1991. Karena kasih sayang seorang ibu tak pernah lekang oleh waktu, Santosa masih tinggal bersama orang tuanya yang beralamat di Jalan Raya Sunan Gunung Jati, nomer 105. Desa Mertasinga, blok Budiraja, RT/RW 02/01, kecamatan Gunung Jati, kabupaten Cirebon, masuk dalam provinsi Jawa Barat dengan kode posnya 45151. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa aktif di Universitas Swadaya Gunung Jati, dia mengambil jurusan pendidikan ekonomi akuntansi – menjadikannya memiliki kepribadian untuk berperan serta dalam mencerdaskan bangsa ini melalui karya-karyanya lewat tulisan seperti dalam blog pribadinya http://santosa-innovation.blogspot.com/ atau https://cirebonhijau.wordpress.com/  Bagi yang ingin bertukar pikiran dengannya dapat menghubungi lewat YM: santosaimago3@yahoo.com atau bisa langsung via sms ke +6285224731010 24 jam/hari. 

Santosa : Sesuatu pengalaman akan berharga dan bermanfaat, manakala pengalaman itu kita jadikan sebuah catatan dan kita bagikan kepada orang lain, agar mereka bisa mengambil pelajaran seperti yang kita alami saat itu.

Belajar adalah hal yang fardu bagi umat islam secara umum, tak terbatas pada usia. Sepanjang ia masih hidup maka belajar adalah tanggungannya, dan tak bisa diwakilkan oleh siapapun seperti pada fardu kifayah. Untuk umat manusia, adalah wajar dan perlu baginya untuk senantiasa mencari dan mengamalkan semua ilmu yang dia telah peroleh. Kita sebagai insan yang berakal dan memiliki hati nurani sangatlah baik untuk senantiasa belajar dari siapapun, meskipun dia adalah orang kecil yang belum tahu apa-apa. Tapi jika kita ingin mencari ilmu, maka di sana kita akan mengambil hikmahnya (ilmunya) dari apa yang selalu mereka lakukan. Manfaat dari belajar sendiri adalah sebagai patokan, agar kita takkan mengulangi kesalahan yang sama untuk hari ke depan dan dengan belajar kita akan menjadi lebih baik lagi dengan hari kemarin.

Sebelum kita belajar dari sumber yang akan kita jadikan dia sebagai seorang guru, maka terlebih dahulu kita mempersiapkannya. Mengapa kita perlu untuk mempersiapkan, dan tidak langsung untuk mempelajarinya langsung. Karena kita akan mendapatkan pelajaran yang baru dan kemungkinan akan mengalami benturan-benturan pemahaman, dan setiap pemahaman belum tentu kita akan mengerti secara penuh tentang apa yang sedang dimaksud oleh narasumber kita. Ditakutkan juga pemahaman tersebut akan bersimpangan dengan makna yang sesungguhnya, hal yang perlu kita perhatikan adalah landasan pemahaman kita harus kuat, akan dibandingkan dengan pemahaman yang akan dipaparkan oleh seorang narasumber kita (guru:abstrak). Apa sajakah yang sebaiknya kita lakukan untuk mengawali kita dalam belajar kepada target/sasaran objek kita?

Tahap-tahap kita belajar kepada seseorang/alam/guru/objek :

1. Diam yang pertama, artinya kita harus melepas semua persoalan pribadi kita. Terutama jika kita sedang dirundung masalah, atau kita sedang dalam posisi mengantuk, karena pada saat itu otak kita tidak siap untuk menyimpan informasi yang akan kita peroleh dari narasumber.

2. Diam yang kedua, artinya  kita senantiasa diam selama guru tidak memberikan aba-aba untuk bertanya. Diam kita adalah menghormati posisi guru yang sedang memberikan materi dan mengarahkan kita untuk ke tahap pembelajaran yang sedang dilakukan.

3. Setelah kita mencermati keseluruhannya, barulah kita bertanya. Usahakan kita memiliki pertanyaan untuk di sumbangkan dalam materi yang sudah dijelaskan oleh guru kita.

generalisasi Al-Hadist : Karena ilmu adalah bagaikan sebuah gudang, dan pertanyaan adalah kunci dari pintu gudang tersebut.

4. Mencatat semua keterangan dan informasi yang telah dipaparkan, dan kita kembangkan lebih lanjut dan jadikan sebuah referensi. Agar pemahaman kita lebih mantap, maka kita perlu untuk bandingkan dengan refenrensi yang lain ataupun dengan literatur yang lain.

5. Amalkan semua ilmu yang telah kita peroleh dengan cara kita sendiri, apakah dengan diam-diam atau terbuka agar orang lain tahu diri kita telah melakukan demonstrasi yang bernilai positif dan membawa manfaat. Tentu bagi orang lain yang lebih menyukai amalan yang ditutupi tanp perlu menunjukan existensinya, itu akan lebih mulia lagi. Karena dia berpikir jika semua amalan itu tak perlu untuk dibalas dengan bentuk apapun, hanya kepuasan batinlah yang dia inginkan.

6. Motivasi kita untuk belajar juga tak kalah pentingnya untuk menunjang semangat kita dalam belajar dalam kondisi apapun. Motivasi yang terbaik untuk kita agar terjaga dalam kemurnian adalah dengan mencari kebaikan dalam belajar kita dan berharap dari hasil belajar kita akan memperoleh manfaat.

Jika kita ingin belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan sebuah ilmu, maka kita tak usah memilih-milih kepada siapa kita akan belajar. Karena jika sudah memilih-milih, maka kita tidak akan mendapatkan sebuah pencerahan dan pengetahuan baru dari apa yang sedang kita pelajari. Contoh yang dapat kita ambil adalah dari anak yang baru dilahirkan, bagaimana dia mencari pertolongan kepada ibundanya yang baru saja melahirkannya ke dunia yang fana ini sambil menggenggam tangannya. Berteriak senyaring-nyaringnya, karena begitulah sifat manusia yang lemah yang hanya bisa meminta tolong kepada siapapun yang mampu untuk menolongnya. Matanya yang belum bisa melihat apapun merasa ketakutan, dia ingin mencari pegangan hidup jika kelak dia akan melihat isi dunia ini.

generalisasi Al-Hadist : Satiap bayi yang terlahir itu dalam keadaan suci, dan orang tua merekalah yang akan menjadikannya islam atau yang lain.

Begitu pula aku, yang belum profesional dalam menulis, ingin belajar kepada siapapun meski dia belum ahli sekalipun dalam hal menulis. Bagiku, tak ada manusia yang sempurna. Sehingga dalam perjalanan waktu, aku yakin akan bisa menjadi seorang penulis yang handal dan profesional.