Ladang Hijau

Beranda » Curahan Hati » Ide-ide yang Tak Dianggap

Ide-ide yang Tak Dianggap

Arsip

Kategori

Seringkali kita telah membuat beberapa naskah yang begitu banyak, namun kita tak memiliki satu karyapun untuk berhasil kita bukukan ke beberapa penerbit seolah-olah kita merasa dipinggirkan dan diacuhkan. Entah itu adalah kesalahan kita atau kurangnya minat penerbit terhadap karya-karya kita. Tapi tahukah kawan, bahwa tujuan kita menulis bukan untuk mencari uang. Namun untuk mencari jalan untuk ikut andil dalam program pemerintah yakni, “mencerdaskan bangsa” yang telah tertuang dalam batang tubuh UUD ’45 RI. Meski kita tak medapatkan upah dari negara, namun jiwa ini akan puas secara batin manakala kita kita melihat negara kita maju dan sejahtera berkat masyarakat kita yang sedikit demi sedikit berubah untuk membangaun bersama-sama negara yang telah menjadi saksi kelahiran kita di tanah air ini.

  Selagi kita kita masih ada kesempatan, berjuanglah demi impian kita. Memanglah dalam perjalanan kita, seorang penulis bagiku sebuah pengorbanan besar. Karena telah banyak waktu yang dia lewatkan untuk menulis, namun ketika dia mendapatkan royalti dari buku yang telah dia tulis justru hanya mendapatkan 10% dari total keuntungannya.

Setiap malam selesai belajar dan membaca beberapa halaman dari buku yang dia suka, dia torehkan unek-unek yang ada dalam pikirannya untuk di tuliskan dalam sebuah buku. Tapi dia kembali berpikir, jika buku yang biasa dia tulis itu berasdal dari makhluk hidup juga tak lain adalah pohon yang selau memberikan manfaat udara yang bersih untuk kita bernafas tiap detik. Pohon ibarat sebuah jantung kedua untuk tubuh kita, jika di bumi ini tak ada pohon. Maka sudah dapat dipastikan, kita akan kehilangan oksigen dan kita tak bisa melakukan pembakaran di dalam tubuh kita. Dalam hitungan jam kita dan semua makhluk yang selalu menggantungkan hidup dari oksigen akan mati dengan sendirinya. Aku putuskan untuk menulis dalam sebuah blog, hanya dengan tulisan inilah mungkin aku bisa membantu untuk menyuarakan aspirasiku kepada sesama makhluk hidup yang bersama-sama hidup di bumi ini.

Memanglah aku bukan seorang profesor yang dihormati karena ilmu-ilmunya yang sudah diakui oleh masyarakat ilmuan. Namun aku yang selalu ingin bisa untuk bergabung demi mengisi ruang-ruang ilmu yang belum terisi aku ingin menggagas suatu ide demi ide agar apa yang sudah ada menjadi lebih baik lagi, harapanku.

Santosa : Mudah-mudahan ideku yang menyuarakan untuk berpindah menulis dari buku yang terbuat dari lapisan serat kayu berpindah ke media elektronik menjadi lebih banyak dukungan. Karena aku sangat sayang pada semua pohon yang setiap hari menahan panasnya hari dan rela untuk di curi buah-buah mereka, dan manusia seringkali tak meminta izin padanya.

Semoga ide-ide selain dariku bisa dilaksanakan dan segera direalisasikan oleh orang lain atau dengan dirinya sendiri. Padahal aku sangat ingin ide-ideku itu bisa direferensikan kepada aturan-aturan hukum yang lainnya. Aku merasa iri ketika ada orang yang lebih sukses dariku dengan karya-karya tulisan mereka yang berhasil untuk dipublikasikan ke media massa, atau karya mereka lebih diakui. Padahal belum tentu mereka memiliki ketulusan hati untuk kebaikan karya mereka dengan hal yang telah dilakukannya itu. Tapi bagaimanapun juga aku tak boleh memiliki sifat dan sikap yang iri seperti ini. Walapun begitu, sifat iri untuk bisa menjadi sukses seperti mereka juga perlu juga untuk membangkitkan motivasi kita dalam mencapai keberhasilan dalam menempuh jalan menuju cita-cita ataupun dalam kesuksesan. Tak ada hal yang sia-sia jika kita mau bersyukur.

Sebenarnya aku bisa saja untuk menuliskan kata-kata yang sangat “jurnalis” namun karena segala kerumitan itu akan perlu waktu untuk mentransformasikan ke penerjemahan yang lebih lama lagi, jadi aku sering untuk menyederhanakan semuanya agar mudah dipahami oleh pembaca. Akupun tahu jika penerbit adalah lembaga yang sangat kredibel dan sudah pasti sangat profesionalitas dalam ilmu yang telah dia jadikan sebagai landasan agar tiap karya yang diterbitkannya takkan mengecewakan pembacanya. Merekapun adalah lembaga yang sudah dijadikan sebagai pekerjaan hidupnya. Jadi dalam hal terbit-menerbit mereka sudah pasti sangat selektif dan mempertimbangkannya matang-matang. Aku yang masih sebagai penulis (katakanlah) amatir, masih setengah-setangah dalam menulis. Dalam tiap kesempatan tertentu aku menulis sebisa yang aku bisa, dan itu sangat jauh dari kriteria seorang penulis sejati seperti Andrea Hirata sanga idolaku.

Aku bersabar untuk bagaimana tentang nasib tulisanku, yang belum juga terjawab statusnya. Apakah akan diterima atau akan ditolak, aku sangat berharap karya-karyaku dapat diterima oleh khalayak umum. Tak sekedar karyanya, namun segala gagasanku dan ide-ideku semuanya.


1 Komentar

  1. Cekk..cekidot..ceeeekkkk.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: